Apa Itu Backlink dan Kenapa Ada Atributnya

Backlink itu link dari situs lain yang mengarah ke situs Anda. Fungsinya semacam rekomendasi: kalau banyak situs kredibel merujuk ke Anda, mesin pencari menilai situs Anda lebih layak dipercaya.
Tapi tidak semua link diperlakukan sama. Di balik setiap link ada atribut tersembunyi yang memberi tahu mesin pencari bagaimana link itu harus diperlakukan. Dua yang paling dikenal: dofollow dan nofollow. Perbedaannya menentukan apakah link tersebut ikut “mengoper” nilai otoritas atau tidak.
Ingin membangun profil backlink yang sehat dan seimbang? Konsultasi gratis via WA 081390888231.
Backlink Dofollow: Si Pengoper Otoritas
Dofollow adalah link standar — bawaan setiap link kalau tidak ditambah atribut khusus. Ia meneruskan “sinyal kepercayaan” dari situs pemberi ke situs penerima. Dalam istilah SEO lama, inilah yang mengalirkan “link juice”.
Karena mengoper otoritas, dofollow adalah jenis link yang paling diburu. Kalau situs berotoritas tinggi memberi Anda link dofollow, sebagian kredibilitasnya seolah mengalir ke situs Anda, memperbesar peluang naik ranking.
Contoh sumber dofollow yang bagus: artikel editorial di media, guest post di blog seniche, atau referensi dari situs institusi. Secara teknis, kode link dofollow sederhana — hanya <a href=”…”> tanpa atribut tambahan apa pun.
Backlink Nofollow: Bukan Sekadar Pelengkap
Nofollow punya atribut rel=”nofollow” yang menyampaikan pesan ke mesin pencari: “jangan oper otoritas lewat link ini”. Atribut ini awalnya dibuat Google tahun 2005 untuk melawan spam komentar.
Karena tidak mengoper otoritas, banyak orang meremehkan nofollow. Ini keliru. Nofollow tetap punya nilai penting:
Mendatangkan traffic nyata. Link nofollow di situs ramai tetap diklik pengunjung asli. Traffic ini nyata, tidak peduli atributnya apa.
Membangun brand awareness. Nama Anda muncul di berbagai tempat, memperkuat pengenalan merek meski tanpa “jus SEO”.
Membuat profil terlihat natural. Ini yang paling sering dilupakan. Website sehat secara alami punya campuran dofollow dan nofollow.
Menariknya, sejak 2019 Google memperlakukan nofollow sebagai petunjuk, bukan perintah mutlak. Artinya, dalam kasus tertentu Google tetap bisa memperhitungkan link nofollow — tidak lagi seratus persen diabaikan seperti dulu.
Jago Marketing membangun backlink dengan komposisi yang natural dan aman. Cek layanannya di jagomarketing.id.
Perbandingan Langsung Dofollow vs Nofollow
Biar gampang membandingkan, ini ringkasannya:
| Aspek | Dofollow | Nofollow |
| Atribut kode | Tanpa atribut khusus | rel=”nofollow” |
| Oper otoritas | Ya | Umumnya tidak |
| Nilai SEO langsung | Tinggi | Rendah – sedang |
| Mendatangkan traffic | Ya | Ya |
| Contoh sumber | Artikel editorial, guest post | Komentar, forum, sosmed |
| Fungsi utama | Ranking & otoritas | Traffic & naturalness |
| Diperlakukan Google | Sinyal penuh | Petunjuk (sejak 2019) |
Kesimpulan cepatnya: dofollow unggul untuk otoritas dan ranking, sementara nofollow berperan menjaga profil tetap natural sambil tetap membawa pengunjung. Keduanya punya tempat.
Atribut Baru: Sponsored dan UGC
Sejak 2019, Google memperkenalkan dua atribut tambahan untuk memperjelas jenis link. Ini bagian yang sering terlewat padahal penting:
rel=”sponsored” untuk link berbayar atau hasil kerja sama iklan. Kalau Anda membayar untuk sebuah link, inilah atribut yang seharusnya dipakai agar jujur di mata Google.
rel=”ugc” (user-generated content) untuk link dari konten buatan pengguna, seperti komentar dan postingan forum.
Kenapa ini penting? Menandai link berbayar dengan sponsored itu praktik jujur yang menghindarkan Anda dari masalah. Google tidak suka link berbayar yang menyamar sebagai dofollow alami — itu dianggap manipulasi. Berikut ringkasan keempat atribut:
| Atribut | Kegunaan | Contoh |
| dofollow | Link editorial alami | Referensi dalam artikel |
| nofollow | Link tak dijamin/tak diendorse | Komentar acak |
| sponsored | Link berbayar / iklan | Konten bersponsor |
| ugc | Konten buatan pengguna | Postingan forum |
Kenapa Profil Campuran Lebih Sehat
Ada anggapan keliru bahwa semakin banyak dofollow, semakin bagus. Kenyataannya, profil backlink yang 100% dofollow justru mencurigakan di mata Google.
Pikirkan secara logis. Website yang tumbuh alami pasti disebut di banyak tempat: dikomentari orang, dibagikan di media sosial, dibahas di forum — dan mayoritas sumber itu memberi link nofollow. Jadi kalau semua backlink Anda dofollow, itu pola tidak natural yang mengindikasikan link dibeli atau dimanipulasi.
Website sehat punya bauran wajar. Tidak ada rasio emas yang pasti, tapi campuran dofollow dan nofollow yang mengalir alami adalah tanda profil yang kredibel. Jadi jangan buang kesempatan mendapat link nofollow hanya karena “tidak mengoper otoritas” — justru link itu memperkuat keaslian profil Anda.
Bingung menilai apakah profil backlink Anda sudah seimbang? Tim Jago Marketing bisa bantu audit — chat WA 081390888231.
Cara Mengecek Sebuah Link Dofollow atau Nofollow
Mengeceknya gampang, bisa dilakukan sendiri:
Lewat inspect element. Klik kanan pada link di browser, pilih “Inspect”. Kalau ada rel=”nofollow” di kode, berarti nofollow. Kalau bersih tanpa atribut itu, berarti dofollow.
Pakai ekstensi browser. Ekstensi seperti “NoFollow” atau “SEO Minion” otomatis menandai link nofollow di halaman, biasanya dengan garis atau warna berbeda. Praktis kalau ingin memeriksa banyak link sekaligus.
Lewat tool SEO. Ahrefs, Moz, atau Semrush menampilkan status dofollow/nofollow di laporan profil backlink Anda, lengkap dengan datanya.
FAQ
1. Apakah link nofollow benar-benar tidak berguna untuk SEO?
Tidak benar. Meski umumnya tidak mengoper otoritas, nofollow tetap mendatangkan traffic, membangun brand, dan membuat profil backlink terlihat natural. Sejak 2019 Google bahkan memperlakukannya sebagai petunjuk, bukan larangan mutlak.
2. Berapa rasio ideal dofollow dan nofollow?
Tidak ada angka pasti yang berlaku universal. Yang penting komposisinya terlihat alami. Website yang tumbuh natural biasanya punya lebih banyak nofollow karena mayoritas sumber seperti komentar dan sosmed memang bersifat nofollow.
3. Apakah saya harus menolak link nofollow?
Tidak. Justru sebaiknya diterima. Link nofollow dari situs relevan tetap membawa traffic dan memperkuat keaslian profil backlink Anda. Menolaknya sama saja membuang peluang.
4. Bagaimana kalau semua backlink saya dofollow?
Itu justru pola tidak natural yang bisa memicu kecurigaan Google, karena mengesankan link dibeli atau dimanipulasi. Profil sehat selalu punya campuran dofollow dan nofollow yang wajar.
5. Apa bedanya nofollow dengan sponsored dan ugc?
Ketiganya sama-sama tidak mengoper otoritas penuh, tapi maknanya berbeda. Nofollow untuk link umum yang tidak diendorse, sponsored khusus link berbayar, dan ugc untuk konten buatan pengguna seperti komentar dan forum.
Simpulan
Perbedaan mendasar dofollow dan nofollow terletak pada apakah link mengoper otoritas atau tidak. Dofollow meneruskan sinyal kepercayaan dan berharga untuk ranking, sementara nofollow tidak mengoper otoritas penuh tapi tetap membawa traffic dan menjaga profil tetap natural.
Yang perlu diingat: jangan terobsesi mengejar dofollow sampai mengabaikan nofollow. Profil backlink yang sehat justru campuran keduanya secara alami. Ditambah pemahaman soal atribut sponsored dan ugc, Anda bisa membangun profil link yang jujur sekaligus aman di mata Google.
Ingin membangun backlink yang seimbang, natural, dan berdampak pada ranking? Jago Marketing siap membantu dari strategi sampai eksekusi. Kunjungi jagomarketing.id atau chat WA 081390888231 untuk konsultasi gratis.
Baca juga : Cara Membangun Backlink Berkualitas Tanpa Kena Penalti